Kamis, 23 April 2015

Tugas Keputusan




1.       Apa dan bagaimana upaya-upaya Saudara dalam mendapatkan kompetensi tersebut ?
2.       Apa faktor pendukung keberhasilan dan hambatannya ?
3.       Apa dampak yang dirasakan/diperoleh saat ini, bila dilihat dari pendekatan decision cooperation?

Nomor 1.

Kompetensi adalah salah satu faktor untuk mahasiswa dalam mencapai tujuannya, pada  kompetensi ini harus sendiri banyak kompetensi yang sudah disediakan oleh kampus salah satunya adalah :
Pelayanan publik
Kebijakan public
Jender HAM dan pembangunan dll ..
Dari beberapa kompetensi diatas kami selaku mahasiswa harus memilih salah satu yang sesuai dengan kemampuannya karena dari setiap individu pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagaimana upaya saya harus bisa memberikan implementasi atau mengetahui dari beberapa teori tersebut untuk menjadi seorang agent of change.
Nomer 2
Berbicara keberhasilan tentunya tidak asing lagi di telinga mahasiswa khususnya mahasiswa Ilmu Administrasi Negara. Keberhasilan adalah titik akhir dari cita-cita mahasiswa. Maka kemudian kami makan sedikit memberikan jawaban dari apa yang telah menjadi pertanyaan bagi kami :
Faktor-faktor pendukung untuk mencapai kesuksesan diantaranya, yaitu :
1.      Mental yang kuat
2.      Intelektual
3.      Kerja keras
4.      Kejujuran
5.      Penampilan
6.      Sosialisasi yang baik
7.      Pengalaman
8.      Disiplin
9.      Percaya diri
10.  Tidak terpaku pada satu hal
11.  Dan rendah diri



Kemudian factor penghambatnya :
  • Tidak ada tujuan
  • Tidak pernah mencatat tujuan
  • Tidak ingin bertanggung jawab atas tindakannya
  • Tidak ada tindakan yang efektif
  • Membatasi diri
  • Malas
  • Tidak bisa mengatur waktu alias salah prioritas
  • Salah memakai strategi atau cara bertindak
  • Tidak ada kesungguhan atau komitmen untuk sukses
  • Kurang menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar
  • Kurangnya hubungan antar manusia yang baik
  • Dan  Sombong dan menganggap diri sendiri paling hebat dan berhenti belajar
Jadi apabila kita sudah bisa melwati dari bebrapa factor penghambat ini, maka kesuksesan akan timbul pada dari diri kita. fainsyaallah


  
nomer :

pendekatan dengan decision cooperation tentunya sangatlah sesuai dengan apa yang didapat oleh mahasiswa Administrasi Negara  dimana seorang pemimpin itu harus bisa mempengaruhi bawahannya. Di mana yang di rasakan pada saat ini Perkembangan lingkungan organisasi mengalami perubahan yang begitu cepat. Hal ini membutuhkan respon yang cepat dari semua anggota organisasi agar tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat tecapai. Untuk itu, peran pemimpin (laeder) sangat penting terutama dalam hal pengambilan keputusan organisasional. Jadi agen of change dalam pengambilan keputusan sangat di butuhkan dalam diri kita. Dan pedekatan decision cooperation sangat baik untuk di pelajarinya karena dampaknya juga sangat bagus hususnya pada diri kita dalam sebuah keputusan.

Minggu, 02 November 2014


TEORI SANGAT BUTUH PENGAPLIKASIAN
            Sebagai mahluk sosial pasti butuh yang namanya “Teori Teori Sosial” karena menurut NEAUMAN mengatakan bahwa teori sosial ini adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaiatan abstraksi atau ide ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial. Jadi dapat diterjemahkan bahwa teori ilmu sosial ini merupakan ide idea tau pemikiran yang sistematis untuk menciptakan penglaman, pegetahan, dalam suatu masyarakat . dan selama kita masih di katakana mahluk sosial maka kita pasti butuh yang namanya teori.
            Kemudian, bila di hubungkan dengan kompetensi bagaimana bisa mengaplikasikan dari sebuah teori teori sosial ini. karena tanpa pengaplikasian, maka teori itu masih elum bisa di katakana sukses. Dan memanag dalam intraksi simbolik, masyarakat itu harus bisa bertindak(act) tehadapa sesuatu(thing) atas dasar makna. Maka kalau semisal teori saja tanpa ada pengaplikasian, maka tidak termasuk dalam kategori intraksi simbolik. Kemudian teori konflik juga sangat di butuhkan daam tatanamn masyarakat karna dalam sebuah organisasi tanpa adanya konflik yang membangun kepada organisasi tersebut maka organisasi tersebut tidak akan pernah berkembang, begitun juga dalam sebuah masyarakat tanpa adanya konflik yang membangun terhadap masyarakat tersebut, maka masyarkat (sosial) tidak akan pernah berkembang juga. Contohnya saja masyarakat pedesaan, kenapa masyarakatnya tidak pernah berkembang karna mereka tidak pernah membangun sebuah konflik.
            Jadi , teori-teori sosial tanpa adanya mengaplikasian masih belum bisa dikatakan suses. Begitupun juga dalam interaksi simbolik, disan sudah jelas bahwa masyarakatnya harus bertindak terhadap seuatu atas dasar makna jadi kalau semisal Cuma bertindak tanpa ada tujuan dan maksud tertentu maka masyarakat itu masih belum bisa dikatakan masyarakat simbolik, dan dalam teori konflik tanpa ada tindakan (act) untuk melakukan sebuah konflik  yang membangun dalam masyarakat maka konflik tersebut masih belum bisa dikatakan sukses dalam situasi dan kondisi masyarakat tersebut. Jadi intinya semua teori apa saja yang kita pelajari itu akan menambah pengetahuan kita dan lebih baiknya lagi apabila teori tersebut di inplementasikan/ di aplikasikan dalam masyarakat (sosial)

Jumat, 04 Juli 2014

Efektifkah dalam pemerintah tanpa komunikasi?


Efektifkah dalam pemerintah tanpa komunikasi?
Moh.Rowasis*
2013210067

               Di dalam sebuah lembaga pemerintahan pasti mayoritas akan mengalami problem problem, baik horizontal ataupun vertikal. Dan yang sering terjadi sesama karyawan tidak akur ataupu tidak harmonis dalam hubungannya, dan itu memang karena di sebabkan oleh kurangnya solidaritas yang tinggi antara sesama karyawan, tidak bisa saling memahami keduanya apalagi antara atasan ke bawahan, serta yang menjadi pembahasan kali ini yaitu tidak ada komunikasi yang baik. Maka kemudian terjadilah suatu lembaga pemerintah tersebut tidak akan nyaman dan tidak akan harmonis.
            Pada dasarnya, manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan lepas dari yang namanya saling membutuhkan satu sama lain. Apalagi dalam sebuah lembaga yang memang  tempat dari kumpulan orang-orang atau individu-individu yang membentuk suatu lembaga tersebut yang bernama pemerintah. Dan juga dalam pemerintah ada yang namanya atasan dan bawahan yang saling membutuhkan  dan bisa saling memahami baik atasan kebawahan, bawahan ke atasan atau sama sama bawahan (karyawan). Kemudian, dari itu juga dalam menciptakan sebuah ke efektifan dan ke harmonisan dalam lembaga pemerintah tidak cukup hanya saling memahami saja, tapi juga butuh yang namanya komunikasi yang baik, dan komunikasi yang baik itu komunikasi dua arah/timbal balik agar bisa mempersatukan sikap-sikap dan prilaku-prilaku yang membuat ketidak efektifan dalam lembaga tersebut. Di samping itu juga penulis sempat membaca buku yang berjudul “human relation & publik relation” di sana di jelaskan bahwa untuk menciptakan sebuah lembaga yang efektif di mana antara atasan dan bawahan sama-sama di beri kepuasan, dalam artian antara atasan dan bawahan itu sama-sama puas terhadap apa yang telah di sepakati bersama. Baik,yang di usulkan bawahan terhadap atasan  ataupun kebijakan yang di berikan atasan kepada bawahan. Di situlah penulis sedikit  dapat memberi pemahaman bahwa dalam suatu lembaga pemerintahan, baik atasan ataupun bawahan harus di beri keleluasaan untuk berpendapat yang sekiranya membangun tehadap lembaga tersebut. Supaya  memberikan kepuasan terhadap masing-masing individu untuk menciptakan inovasi baru dalam lembaga pemerintahan maka, akan timbul sebuah ke efektifan dalam pemerintah.
            Kemudian, di atas sudah jelas bahwa tidak adanya komunikasi dalam sebuah lembaga pemerintah maka, tidak akan terjadi yang namanya pemerintah yang efektif. karena komunikasi adalah bentuk ke efektifan dalam lembaga pemerintah tersebut. Jadi intinya, dalam sebuah lembaga pemerintah tidak bisa lepas dari yang namanya komunikasi yang baik dan saling memahami dalam artian memberikan kepuasan sesama karyawan terutama atasan kepada bawahan. Jadi apabila beberapa masalah yang sering timbul dalam sebuah lembaga pemerintah bisa di cegah ataupun bisa tidak terjadi masalah tersebut dalam lembaga pemerintah, maka akan terjadi ke efektifan dalam lembaga pemerintah tersebut.

*Mahasiswa Adalah Prodi Ilmu Administrasi Negara Semester 2 Yang Mempunyai Alamat Asli Sumenep Madura

Rabu, 25 Juni 2014

TEORI TENTANG ETIKA



TEORI TENTANG ETIKA

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

BEBERAPA TEORI ETIKA

1.          Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
2.          Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).


3.          Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.

Dari beberapa pemahaman di atas maka penulis mempunyai beberapa pertanyaan

1.      Dari penjelasan ada yang belum di pahami tentang perbedaan egoisme psikologis dan egoisme etis?

Perbedaannya adalah kalau teori egoisme psikologis, cendrung mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain. Sedangkan egoisme etis, cendrung tindakan mementingkan diri sendiri tetapi, tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

2.      Dari beberapa teori di atas, teori apakah yang paling menekankan pada kepentingan bersama?

Yaitu teori Utilitarianisme dimana memang dalam teori ini lebih menekankan pada kebersamaan (masyarakat) karena ada sebuah istilah mengatakan bahwa suatu tindakan dapat dikatan baik, apabila membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat.







Out door (wawancara)
Nama   : syaiful mulkan
Nim      : 2011230032
Prody  : ilmu komunikasi
Menurut anda, apa yang anda pahami tentang etika?
            Menurut saya etika merupakan sebuah tingkah laku atau kebiasaan atau juga bias di katakana sebagai watak, untuk bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Karena kita selaku mahluk social dimana dalam setiap kita mau melangkah pasti ada yang namanya ilmunya, dan ilmunya adalah etika. Dan juga kita tanpa etika yang baik maka tingkah laku kita tidak akan pernah benar di mata masyarakat. Begitupun sebaliknya apabila kita sudah menggunakan ataupun merubah tingkah laku kita yang buruk menjadi baik maka, tingkah laku kita akan kelihatan baik di mata masyarakat. Meskipun orangnya tidak setampan atau secantik wajahnya, karena masyarakat tidak memandang tampan tidaknya atau cantik tidaknya, tapi tingkah lakunya. Atau yang sering kita sebut denga etika yang baik. Mungking hanya ini yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya saya minta maaf yang tiada batas, akhirnya wassalamualaikum. Wr. Wb.