Rabu, 25 Juni 2014

TEORI TENTANG ETIKA



TEORI TENTANG ETIKA

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

BEBERAPA TEORI ETIKA

1.          Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
2.          Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).


3.          Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.

Dari beberapa pemahaman di atas maka penulis mempunyai beberapa pertanyaan

1.      Dari penjelasan ada yang belum di pahami tentang perbedaan egoisme psikologis dan egoisme etis?

Perbedaannya adalah kalau teori egoisme psikologis, cendrung mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain. Sedangkan egoisme etis, cendrung tindakan mementingkan diri sendiri tetapi, tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

2.      Dari beberapa teori di atas, teori apakah yang paling menekankan pada kepentingan bersama?

Yaitu teori Utilitarianisme dimana memang dalam teori ini lebih menekankan pada kebersamaan (masyarakat) karena ada sebuah istilah mengatakan bahwa suatu tindakan dapat dikatan baik, apabila membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat.







Out door (wawancara)
Nama   : syaiful mulkan
Nim      : 2011230032
Prody  : ilmu komunikasi
Menurut anda, apa yang anda pahami tentang etika?
            Menurut saya etika merupakan sebuah tingkah laku atau kebiasaan atau juga bias di katakana sebagai watak, untuk bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Karena kita selaku mahluk social dimana dalam setiap kita mau melangkah pasti ada yang namanya ilmunya, dan ilmunya adalah etika. Dan juga kita tanpa etika yang baik maka tingkah laku kita tidak akan pernah benar di mata masyarakat. Begitupun sebaliknya apabila kita sudah menggunakan ataupun merubah tingkah laku kita yang buruk menjadi baik maka, tingkah laku kita akan kelihatan baik di mata masyarakat. Meskipun orangnya tidak setampan atau secantik wajahnya, karena masyarakat tidak memandang tampan tidaknya atau cantik tidaknya, tapi tingkah lakunya. Atau yang sering kita sebut denga etika yang baik. Mungking hanya ini yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya saya minta maaf yang tiada batas, akhirnya wassalamualaikum. Wr. Wb.    

Rabu, 18 Juni 2014

Tugas Ke 4 Etika dan Filsafat Kepemimpinan




Tugas Ke 4

Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.

Tugas/pertanyaan:
1.  Jelaskan makna konsep tersebut di atas !

Dalam konsep tersebut menjelaskan bahwa bagaimana, seorang pemimpin(leader) harus bisa memahami betul tentang pemimpin itu sendiri apa, dan bagaimana? Dari bebrapa pemaparan di atas menjelaskan tentang konsep konsep untuk membentuk pemimpin yang smart(SMART Leadership) karena yang dapat saya pahami tentang pemimpin yang smart itu adalah yaitu perencanaan harus jelas maksud maupun ruang lingkupnya. Bagaimana dalam suatu pembuatan program itu harus jelas(spesifik). Agar seseorang dapat memahaminya, serta menjalankannya itu jelas maksud dan tujuan dari program tersebut. kemudian program kerja atau rencana harus dapat diukur tingkat keberhasilannya  agar dapat di capai denga baik. Jadi bukan anggan-angan. Dan lagi sesuai dengan kemampuan  sumber daya yang ada. Tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Tapi tetap ada tantangan. juga ada batas waktu yang jelas. Sehingga mudah dinilai dan dievaluasi. Itulah sedikit penjelasan tentang konsep tersebut.

2.  Faktor-2 apa saja yang mendukung ?
                  Sedik pemahaman saya tentang pemimpin yang SMART (SMART Leadership) yaitu :
- Mempunyai perencanaan (planing) yang jelas selama memimpin dalam artian, mempunyai visi, misi jelas.
- Mempunyai program yang jelas (spesifik) selama memimpin dan dapat di pahami baik oleh bawahan ataupun public
- Dan dalam perencanaannya sudah dapat di ukur, atau mempunyai target
- Serta sudah mempunyai sumber dana yang cukup untuk melaksanakan program kerjanya.

3.  Faktor apa saja yang menghambat ?
- Kurangnya perencanaan yang jelas dalam memimpin
- Tidak mempunyai program kerja yang spesifik
- Dan kurangnya  sumber dana baik material ataupun non material dalam melaksanakan program kerjanya  
4.  Serta bagaimana pemecahannya ?
Dari beberap faktor penghambat untuk menjadikan seseorang pemimpin yang SMART (SMART Leadership) ini. Sedikit pemahaman tentang pemecahan atau yang lebih spesifik lagi yaitu solusi adalah bagaimana kita selaku pemimpin yang memang di tuntut untuk bisa meberikan perubahan (agent of change and development) dan salah satu cara untuk bisa seperti itu yaitu, dengan cara mengambil kepemimpinan yang SMART  (SMART Leadership). Kemudian dari faktor penghambat yang telah di sebutkan di atas,  yaitu kurangnya perencanaan yang jelas dalam memimpin maka, solusinya adalah dalam kepemimpinan misalkan di sebuah organisasi yang memang organisasi tersebut mempunyai kendala atau penghambat yang sama seperti yang di sebutkan di atas maka kemudian, kita itu harus mempunyai perencanaan atau visi, misi yang jelas, selama kepemimpinannya. agar dalam kemimpinan suatu organisasi tersebut bisa memberikan target/tujuan yang jelas dalam sebuah pencapain untuk melakukan Sesutu hal yang bisa membuahkan hasil untuk mencapai suatu kesuksesan dalam sebuah organisasi tersebut. Dan selanjutnya yaitu  harus mempunyai program kerja yang spesifik agar bawahannya itu bisa memahami tentang apa yang harus di lakukannya terutama dalam menjalankan program kerja yang telah di buat besama dan di spakati bersama. Biar sesuai dengan apa yang telah di rencanakan pada masa kepemimpinannya. Dan solusi/pemecahan yang terakhir, yaitu memberikan sumber dana yang memadai demi kelancaran ataupun terlaksananya suatu program dalam sebuah organisasi. jadi kalau misalkan Cuma perencanaan dan program tanpa adanya sumber dana baik materi ataupun non materi yang kurang mendukung terhadap suatu program. Maka,program kerja yang telah di buat tidak akan terlaksana. ketika program kerja tidak terlaksana maka kemudian secara otomatis organisasi tersebut tidak akan di katakana sukses pada masa jabatannya. Begitupun juga dalam kepemimpinan yang SMART (SMART Leadership). Jadi tiga tiganya harus ada dan lengkap. Agar dalam suatu pemimpin yang(agent of change and development) bisa benar benar tercapai untuk membawa masyarakat lebih maju adil makmur dan sejahtera.

Keterangan:
1.  Jawaban soal nomor satu langsung di jawab pada komentar di blog dosen pengampu;
2.  Soal nomo 2, 3,4, dijawab melalui Blogg Masing-2 mahasiswa, dan diprint out, dikumpulkan tanggal 19 Juni 2014. Terimakasih.