Minggu, 02 November 2014


TEORI SANGAT BUTUH PENGAPLIKASIAN
            Sebagai mahluk sosial pasti butuh yang namanya “Teori Teori Sosial” karena menurut NEAUMAN mengatakan bahwa teori sosial ini adalah sebagai sebuah sistem dari keterkaiatan abstraksi atau ide ide yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan tentang dunia sosial. Jadi dapat diterjemahkan bahwa teori ilmu sosial ini merupakan ide idea tau pemikiran yang sistematis untuk menciptakan penglaman, pegetahan, dalam suatu masyarakat . dan selama kita masih di katakana mahluk sosial maka kita pasti butuh yang namanya teori.
            Kemudian, bila di hubungkan dengan kompetensi bagaimana bisa mengaplikasikan dari sebuah teori teori sosial ini. karena tanpa pengaplikasian, maka teori itu masih elum bisa di katakana sukses. Dan memanag dalam intraksi simbolik, masyarakat itu harus bisa bertindak(act) tehadapa sesuatu(thing) atas dasar makna. Maka kalau semisal teori saja tanpa ada pengaplikasian, maka tidak termasuk dalam kategori intraksi simbolik. Kemudian teori konflik juga sangat di butuhkan daam tatanamn masyarakat karna dalam sebuah organisasi tanpa adanya konflik yang membangun kepada organisasi tersebut maka organisasi tersebut tidak akan pernah berkembang, begitun juga dalam sebuah masyarakat tanpa adanya konflik yang membangun terhadap masyarakat tersebut, maka masyarkat (sosial) tidak akan pernah berkembang juga. Contohnya saja masyarakat pedesaan, kenapa masyarakatnya tidak pernah berkembang karna mereka tidak pernah membangun sebuah konflik.
            Jadi , teori-teori sosial tanpa adanya mengaplikasian masih belum bisa dikatakan suses. Begitupun juga dalam interaksi simbolik, disan sudah jelas bahwa masyarakatnya harus bertindak terhadap seuatu atas dasar makna jadi kalau semisal Cuma bertindak tanpa ada tujuan dan maksud tertentu maka masyarakat itu masih belum bisa dikatakan masyarakat simbolik, dan dalam teori konflik tanpa ada tindakan (act) untuk melakukan sebuah konflik  yang membangun dalam masyarakat maka konflik tersebut masih belum bisa dikatakan sukses dalam situasi dan kondisi masyarakat tersebut. Jadi intinya semua teori apa saja yang kita pelajari itu akan menambah pengetahuan kita dan lebih baiknya lagi apabila teori tersebut di inplementasikan/ di aplikasikan dalam masyarakat (sosial)

Jumat, 04 Juli 2014

Efektifkah dalam pemerintah tanpa komunikasi?


Efektifkah dalam pemerintah tanpa komunikasi?
Moh.Rowasis*
2013210067

               Di dalam sebuah lembaga pemerintahan pasti mayoritas akan mengalami problem problem, baik horizontal ataupun vertikal. Dan yang sering terjadi sesama karyawan tidak akur ataupu tidak harmonis dalam hubungannya, dan itu memang karena di sebabkan oleh kurangnya solidaritas yang tinggi antara sesama karyawan, tidak bisa saling memahami keduanya apalagi antara atasan ke bawahan, serta yang menjadi pembahasan kali ini yaitu tidak ada komunikasi yang baik. Maka kemudian terjadilah suatu lembaga pemerintah tersebut tidak akan nyaman dan tidak akan harmonis.
            Pada dasarnya, manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan lepas dari yang namanya saling membutuhkan satu sama lain. Apalagi dalam sebuah lembaga yang memang  tempat dari kumpulan orang-orang atau individu-individu yang membentuk suatu lembaga tersebut yang bernama pemerintah. Dan juga dalam pemerintah ada yang namanya atasan dan bawahan yang saling membutuhkan  dan bisa saling memahami baik atasan kebawahan, bawahan ke atasan atau sama sama bawahan (karyawan). Kemudian, dari itu juga dalam menciptakan sebuah ke efektifan dan ke harmonisan dalam lembaga pemerintah tidak cukup hanya saling memahami saja, tapi juga butuh yang namanya komunikasi yang baik, dan komunikasi yang baik itu komunikasi dua arah/timbal balik agar bisa mempersatukan sikap-sikap dan prilaku-prilaku yang membuat ketidak efektifan dalam lembaga tersebut. Di samping itu juga penulis sempat membaca buku yang berjudul “human relation & publik relation” di sana di jelaskan bahwa untuk menciptakan sebuah lembaga yang efektif di mana antara atasan dan bawahan sama-sama di beri kepuasan, dalam artian antara atasan dan bawahan itu sama-sama puas terhadap apa yang telah di sepakati bersama. Baik,yang di usulkan bawahan terhadap atasan  ataupun kebijakan yang di berikan atasan kepada bawahan. Di situlah penulis sedikit  dapat memberi pemahaman bahwa dalam suatu lembaga pemerintahan, baik atasan ataupun bawahan harus di beri keleluasaan untuk berpendapat yang sekiranya membangun tehadap lembaga tersebut. Supaya  memberikan kepuasan terhadap masing-masing individu untuk menciptakan inovasi baru dalam lembaga pemerintahan maka, akan timbul sebuah ke efektifan dalam pemerintah.
            Kemudian, di atas sudah jelas bahwa tidak adanya komunikasi dalam sebuah lembaga pemerintah maka, tidak akan terjadi yang namanya pemerintah yang efektif. karena komunikasi adalah bentuk ke efektifan dalam lembaga pemerintah tersebut. Jadi intinya, dalam sebuah lembaga pemerintah tidak bisa lepas dari yang namanya komunikasi yang baik dan saling memahami dalam artian memberikan kepuasan sesama karyawan terutama atasan kepada bawahan. Jadi apabila beberapa masalah yang sering timbul dalam sebuah lembaga pemerintah bisa di cegah ataupun bisa tidak terjadi masalah tersebut dalam lembaga pemerintah, maka akan terjadi ke efektifan dalam lembaga pemerintah tersebut.

*Mahasiswa Adalah Prodi Ilmu Administrasi Negara Semester 2 Yang Mempunyai Alamat Asli Sumenep Madura

Rabu, 25 Juni 2014

TEORI TENTANG ETIKA



TEORI TENTANG ETIKA

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

BEBERAPA TEORI ETIKA

1.          Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.
2.          Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).


3.          Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat miskin.

Dari beberapa pemahaman di atas maka penulis mempunyai beberapa pertanyaan

1.      Dari penjelasan ada yang belum di pahami tentang perbedaan egoisme psikologis dan egoisme etis?

Perbedaannya adalah kalau teori egoisme psikologis, cendrung mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain. Sedangkan egoisme etis, cendrung tindakan mementingkan diri sendiri tetapi, tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

2.      Dari beberapa teori di atas, teori apakah yang paling menekankan pada kepentingan bersama?

Yaitu teori Utilitarianisme dimana memang dalam teori ini lebih menekankan pada kebersamaan (masyarakat) karena ada sebuah istilah mengatakan bahwa suatu tindakan dapat dikatan baik, apabila membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat.







Out door (wawancara)
Nama   : syaiful mulkan
Nim      : 2011230032
Prody  : ilmu komunikasi
Menurut anda, apa yang anda pahami tentang etika?
            Menurut saya etika merupakan sebuah tingkah laku atau kebiasaan atau juga bias di katakana sebagai watak, untuk bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Karena kita selaku mahluk social dimana dalam setiap kita mau melangkah pasti ada yang namanya ilmunya, dan ilmunya adalah etika. Dan juga kita tanpa etika yang baik maka tingkah laku kita tidak akan pernah benar di mata masyarakat. Begitupun sebaliknya apabila kita sudah menggunakan ataupun merubah tingkah laku kita yang buruk menjadi baik maka, tingkah laku kita akan kelihatan baik di mata masyarakat. Meskipun orangnya tidak setampan atau secantik wajahnya, karena masyarakat tidak memandang tampan tidaknya atau cantik tidaknya, tapi tingkah lakunya. Atau yang sering kita sebut denga etika yang baik. Mungking hanya ini yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya saya minta maaf yang tiada batas, akhirnya wassalamualaikum. Wr. Wb.    

Rabu, 18 Juni 2014

Tugas Ke 4 Etika dan Filsafat Kepemimpinan




Tugas Ke 4

Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.

Tugas/pertanyaan:
1.  Jelaskan makna konsep tersebut di atas !

Dalam konsep tersebut menjelaskan bahwa bagaimana, seorang pemimpin(leader) harus bisa memahami betul tentang pemimpin itu sendiri apa, dan bagaimana? Dari bebrapa pemaparan di atas menjelaskan tentang konsep konsep untuk membentuk pemimpin yang smart(SMART Leadership) karena yang dapat saya pahami tentang pemimpin yang smart itu adalah yaitu perencanaan harus jelas maksud maupun ruang lingkupnya. Bagaimana dalam suatu pembuatan program itu harus jelas(spesifik). Agar seseorang dapat memahaminya, serta menjalankannya itu jelas maksud dan tujuan dari program tersebut. kemudian program kerja atau rencana harus dapat diukur tingkat keberhasilannya  agar dapat di capai denga baik. Jadi bukan anggan-angan. Dan lagi sesuai dengan kemampuan  sumber daya yang ada. Tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Tapi tetap ada tantangan. juga ada batas waktu yang jelas. Sehingga mudah dinilai dan dievaluasi. Itulah sedikit penjelasan tentang konsep tersebut.

2.  Faktor-2 apa saja yang mendukung ?
                  Sedik pemahaman saya tentang pemimpin yang SMART (SMART Leadership) yaitu :
- Mempunyai perencanaan (planing) yang jelas selama memimpin dalam artian, mempunyai visi, misi jelas.
- Mempunyai program yang jelas (spesifik) selama memimpin dan dapat di pahami baik oleh bawahan ataupun public
- Dan dalam perencanaannya sudah dapat di ukur, atau mempunyai target
- Serta sudah mempunyai sumber dana yang cukup untuk melaksanakan program kerjanya.

3.  Faktor apa saja yang menghambat ?
- Kurangnya perencanaan yang jelas dalam memimpin
- Tidak mempunyai program kerja yang spesifik
- Dan kurangnya  sumber dana baik material ataupun non material dalam melaksanakan program kerjanya  
4.  Serta bagaimana pemecahannya ?
Dari beberap faktor penghambat untuk menjadikan seseorang pemimpin yang SMART (SMART Leadership) ini. Sedikit pemahaman tentang pemecahan atau yang lebih spesifik lagi yaitu solusi adalah bagaimana kita selaku pemimpin yang memang di tuntut untuk bisa meberikan perubahan (agent of change and development) dan salah satu cara untuk bisa seperti itu yaitu, dengan cara mengambil kepemimpinan yang SMART  (SMART Leadership). Kemudian dari faktor penghambat yang telah di sebutkan di atas,  yaitu kurangnya perencanaan yang jelas dalam memimpin maka, solusinya adalah dalam kepemimpinan misalkan di sebuah organisasi yang memang organisasi tersebut mempunyai kendala atau penghambat yang sama seperti yang di sebutkan di atas maka kemudian, kita itu harus mempunyai perencanaan atau visi, misi yang jelas, selama kepemimpinannya. agar dalam kemimpinan suatu organisasi tersebut bisa memberikan target/tujuan yang jelas dalam sebuah pencapain untuk melakukan Sesutu hal yang bisa membuahkan hasil untuk mencapai suatu kesuksesan dalam sebuah organisasi tersebut. Dan selanjutnya yaitu  harus mempunyai program kerja yang spesifik agar bawahannya itu bisa memahami tentang apa yang harus di lakukannya terutama dalam menjalankan program kerja yang telah di buat besama dan di spakati bersama. Biar sesuai dengan apa yang telah di rencanakan pada masa kepemimpinannya. Dan solusi/pemecahan yang terakhir, yaitu memberikan sumber dana yang memadai demi kelancaran ataupun terlaksananya suatu program dalam sebuah organisasi. jadi kalau misalkan Cuma perencanaan dan program tanpa adanya sumber dana baik materi ataupun non materi yang kurang mendukung terhadap suatu program. Maka,program kerja yang telah di buat tidak akan terlaksana. ketika program kerja tidak terlaksana maka kemudian secara otomatis organisasi tersebut tidak akan di katakana sukses pada masa jabatannya. Begitupun juga dalam kepemimpinan yang SMART (SMART Leadership). Jadi tiga tiganya harus ada dan lengkap. Agar dalam suatu pemimpin yang(agent of change and development) bisa benar benar tercapai untuk membawa masyarakat lebih maju adil makmur dan sejahtera.

Keterangan:
1.  Jawaban soal nomor satu langsung di jawab pada komentar di blog dosen pengampu;
2.  Soal nomo 2, 3,4, dijawab melalui Blogg Masing-2 mahasiswa, dan diprint out, dikumpulkan tanggal 19 Juni 2014. Terimakasih.

Kamis, 29 Mei 2014

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Tugas 3 (ketiga) Etika dan Filsafat Kepemimpinan

MAKNA KOMPETENSI
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
(SK Mendiknas No. 045/U/2002, Ps. 21)

Tugas / pertanyaan:
1.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ilmu/Pengetahuan;
Yaitu bagaimana, pencapain kompetensi melalui pendekatan ilmu/pengetahuan dimana dalam pemimpin, harus berilmu  karena pemimpin tanpa mempunyai ilmu tidak akan pernah efektif dalam sebuah kepemimpinan tersebut,maka kemudian, pertama harus mempunyai ilmu yang cukup dalam memimpin, meskipun ilmu tentang keterampilan, dan sikap/perilaku minimal mempunyai ilmu tentang kepemimpinan. begitupun juga dengan pengetahuan meskipun sudah mempunyai ilmu tapi tidak mempunyai pengetahuan sama halnya dengan sayur tanpa garam, dalam artian dalam kepemimpinan itu tidak akan sempurna ataupun masih belum dikatakan efektif, tapi kemudian setalah keduanya sudah dimiliki maka pemimpin yang efektif dan efisien akan timbul dengan cara pendekatan ilmu dan penetahuan.
2.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Ketrampilan;
Yaitu, pemimpin yang efektif dan efisien itu tidak cukup dengan mempunyai ilmu dan pengetahun saja, tapi keterampilan juga sangat di butuhkan dalam kepemimpinan tersebut karena Pemimpin yang terampil adalah pemimpin yang memiliki keahlian dalam bidang tugasnya. Artinya seorang pemimpin secar teknis harus terampil agar pekerjaanya menjadi lebih efektif dan efisien. Kemudian, saya dapat sedikit menyebutkan  Ciri - ciri pemimpin yang terampil diantaranya :
Bisa  memahami bidang tugasnya dan bekerja keras demi kemaslahatan bersama, serta mampu memahaami permasalahan dan menyelesaikan dengan baik. Dan  memiliki visi dan misi sosial yang tajam untuk membuat bawahan ataupun msyarakat bias meyakinkan terhadap masyarakat dan terakhir kemampuan merumuskan kebijakan dengan bijaksana dan tepat. Maka kemudian, pemimpin bias efisien dan efiktif dangan cara melalui pendekatan keterampilan ini.


3.       Susun 2 (dua) capaian kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang ingin saudara capai dari pendekatan Sikap / Perilaku;
Dalam pencapain kompetensi yang melalui pendekatan sikap yaitu bagaimana kita bias
Pertama adalah, .menyadari bahwa hidupnya menjadi bermakna kalau kehidupannya memberi manfaat bagi orang lain kemudian yang kedua, menyadari dirinya adalah figur yang paling dominan menentukan keberhasilan organisasi yang dipimpinnya. Jadi, dari kedua penjelasan ini kita dapat menyimpulkan bahwa dalam capain kompetensi yang melalui pendekatan sikap/perilaku ini yaitu bagaimana, kita itu harus paham dan mengerti tentang kondisi yang berda di lingkungan kita. Dalam artian kita harus menjaga sikap diri kita sendiri dulu sebelum mengatur dir orang lain. Maka memudian akan timbul pemimpin yang efiktif dan efisien dalam sikap/perilaku.
4.       Susun / desain model kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan yang saudara unggulkan dan lakukan dalam uji kompetensi akhir semester (dapat berupa bagan atau yang lain).

Dalam model kompetensi etika dan filsafat kepemimpinan, mempunyai keterampilan.
Model Kompetensi  Dari keterampilan seorang  pemimpin